Label

Sabtu, 12 November 2011

Arqam bin Abil Arqam: Sosok Kunci Kesuksesan Dakwah


Sebagian banyak kita dapat dipastikan mengenal sahabat Rasulullah yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia seorang pedagang, yang mana di tangan dinginnya keuntungan berlipat ganda dengan cepat. Ia dikenal dengan salah satu kisah dimana ketika rombongan Rasulullah hijrah dan kaum muhajirin dan anshar saling dipersaudarakan, setiap anshar membagi hartanya kepada setiap muhajirin. Namun kala itu Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin rabi’ Al Anshori ditawari satu dari dua istri dan satu dari dua kebun yang sangat luas oleh saudara ansharnya tersebut, menolak, dan ia berkata “Cukup tunjukkan saja aku di mana pasar”.

Kita juga mungkin mengenal Mus’ab bin Umair, sahabat Rasulullah yang terkenal akan ketampanan dan keglamourannya. Kala itu, ia menjadi trendsetter kalangan muda modis nan trendy. Karena paras dan penampilannya tersebut, Ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah dimanapun ia berada.
Selain kedua nama-nama sahabat Rasulullah di atas, dan para sahabat yang empat, masih banyak lagi nama-nama sahabat yang tenar, yang lumrah kita dengar dan nama beserta kelebihan-kelebihan mereka banyak disebut-sebut dalam sirah nabawiyah.

Namun, apa yang ada dibenak kita jika mendengar nama sahabat yang satu ini: Arqam bin Abil Arqam?

Memang benar, ia yang bernama lengkap Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam, merupakan orang ketujuh dari Assabiqunal Awwalun, golongan sahabat yang pertama memeluk Islam. Dan rumahnya berlokasi di bukit Safa, yang merupakan basecamp untuk berdakwah nabi pada masa dakwah sirri, sembunyi-sembunyi.

Tetapi ada yang menarik dari sosok sahabat yang satu ini. Ia sama sekali tidak terkenal. Kita tidak tahu kelebihannya apa jika dibandingkan seperti sahabat-sahabat lain seperti yang disebutkan di atas tadi. Padahal jika kita perhatikan dalam sirah, dengan digunakannya rumah beliau sebagai markaz utama dakwah dalam fase dakwah awal tersebut, dapat dipastikan ia merupakan salah satu anggota ring satu-nya nabi Muhammad SAW.

Bahkan saking tidak terkenalnya, saya mencari Arqam bin Abil Arqam ini dalam sirah nabawiyah (saya baru mencari dalam sirah nabawiyah-nya Al-Mubarakfury dan Dr. Al-Buthy), namanya hanya beberapa kali tersebut, namun cerita mengenainya sama sekali tidak termaktub. Saya mencari dengan bantuan paman Google, hasilnya pun begitu. Dalam hasil pencarian paman Google tersebut namanya hanya muncul dalam artikel mengenai fase dakwah awal Rasulullah SAW, dan mengenai sahabat-sahabat yang lain. Sama sekali tidak ada yang mengurai cerita syumul perihal sahabat yang satu ini.

Selain itu, dari salah satu sumber yang pernah saya baca (namun kini lupa^^), nama bapak dari sahabat yang satu ini pun sama sekali tidak dikenali dalam sejarah. Sehingga, para sejarawan terpaksa mengidentifikasi sahabat ini dengan menyebut nama bapaknya dengan sebutan  “Abil Arqam”; menjadi Arqam bin “Bapaknya Arqam”.

Namun ternyata kalau kita pikir-pikir, justru sebenarnya kelebihannya ada di sini, pada ketidakterkenalan-nya sahabat yang satu ini. Dengan tidak terkenalnya ia, maka dapat dipastikan orang-orang kota Mekkah pun tidak begitu peduli apa yang terjadi di dalam rumahnya. Terlebih, rumahnya tersebut berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Dan dapat kita bayangkan hiruk pikuknya kota Mekkah yang merupakan kota suci tujuan sentral peziarah agama samawi seperti ini, sekaligus sebagai salah satu kota transit perdagangan kafilah-kafilah, tentunya kecil kemungkinan orang-orang akan memperhatikan siapa dan apa yang dilakukan orang lain. 

Dengan fakta seperti ini, maka dengan menggunakan kediaman Arqam bin abil Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi.  Pergerakan yang dilakukan di rumahnya tidak akan mudah dicurigai oleh masyarakat, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.

Mungkin ini merupakan sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan salah satu orang penting dalam proses pergerakan, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.

Berbicara mengenai Arqam bin Abil Arqam, sayapun menjadi teringat akan sebuah prinsip hidup seorang intelijen: “Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki”. Mungkin peran sahabat mulia satu ini bisa kita kaitkan juga dengan peranan besar berkaitan intelijen. Atau juga bisa saja kita menyebutnya dengan tokoh dasar dunia intelijen. Perannya sangat rahasia. Ia berani tidak dikenal oleh sejarah, demi keberhasilan sebuah dakwah. Cerita bagaimana ia wafatpun secara pribadi (lagi-lagi) belum saya temui. Perannya pun tidak banyak dipuji. Meskipun begitu, terang ia tidak pernah gagal samasekali.

Dan bagi saya, sebenarnya cukup satu yang dapat kita simpulkan, ia merupakan tokoh besar yang bekerja dengan ikhlas, tanpa perlu sebuah pujian, apalagi ketenaran.

Wallahu a’lam…

***
#Artikel ini telah terbit juga di Dakwatuna.com


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...