Label

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 November 2012

DOWNLOAD: Kapita Selekta M. Natsir

Sudah menjadi rahasia umum bahwa penulis yang dahulu memakai nama "A. Muchlis", ialah  M. Natsir, yang kemudian menjadi Ketua Umum partai politik Islam Masyumi, dan pernah menjadi Perdana Menteri pada mula terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1950. Dia menulis di majalah Panji Islam dan juga majalah Pedoman Masjarakat.

image from: rioapinino.blogspot.com
Tulisannya yang berisi dan mendalam dengan susunan yang berirama dan menarik hati, sangatlah memikat perhatian para pembaca. Bukan saja karena kata-kata-nya yang terpilih, yang disusun menurut caranya yang tersendiri itu, melainkan lebih utama lagi karena isinya yang "bernas mengenai soal2 sosial, ekonomi dan politik yang menjadi kebutuhan bangsa kita pada waktu itu.

Semuanya dijiwainya dengan semangat dan ideologi Islam yang menjadi pegangan hidupnya. Dia tampil kedepan. Dia mengetahui betul kapan dia harus berteriak memberi komando untuk memimpin perjuangan bangsanya, dan dia tahu pula kapanmasanya dia berkelakar dan bergembira untuk menghibur, membangkit semangat baru bagi perjuangan. Dengan lain perkataan, dia tahu waktunya untuk membunyikan terompet dengan genderang perang, jika ia hendak menghadapi lawan yang menentang cita2 Islam, baik terhadap bangsa penjajah maupun terhadap bangsa sendiri yang belum menginsafi akan ideology Islam itu.

Kamis, 15 November 2012

Haram Sholat Pakai Kaos Oblong


Ini obrolan khusus untuk kalangan kaum lelaki. Yaitu ketika para lelaki berangkat sholat ke mushola/masjid. Pernahkah kita memperhatikan rekan-rekan sekalian ketika hendak sholat berjamaah? Atau tak perlu jauh-jauh, kembalikan saja pertanyaan berikut ini pada diri sendiri. Pakaian seperti apa yang kita kenakan ketika berangkat untuk sholat berjamaah ke masjid?

Marilah sejenak kita memperhatikan anjuran/perintah Allah yang cukup mudah yang terdapat di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31: “Wahai anak cucu Adam, Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid…”. Dalam ayat tersebut, fokus redaksinya: “Pakailah pakaianmu yang bagus.” Disini saya menebalkan kata yang bagus.

Bisa kita sadari, betapa Allah SWT sangat memahami keadaan seluruh umat muslim: tidak semuanya berpunya. Betapa anjuran Allah SWT ini sangat ringan. Bukan perintah untuk mengenakan pakaian terbagus, tetapi pakaianmu yang bagus. Terbayang jika orang miskin yang setahun saja belum tentu beli pakaian baru diperintahkan untuk memakai pakaian terbagus. Mereka pasti tak punya. Tetapi, pakaiannya yang terbagus dari yang dia miliki, pasti ada. Meskipun mungkin tak akan menandingi pakaian terjelek milik orang kaya.

Rabu, 24 Oktober 2012

Perbincangan Meja Makan

Selepas magrib, saya keluar. Jika biasanya bersama dengan yang lainnya -hampir 5 sekawan, kali ini hanya bersama seorang kawan. Kami mencari makan. Seperti lumrahnya, tak banyak pilihan kami. Kalau tidak ke warung Pak Adib, Juminten, atau nyari mie ayam/bakso. Pilihan pertama merupakan common choice, pilihan paling standar bagi kami. Di warung inilah kami paling sering membungkus nasi. Karena, harganya paling murah di antara warung makan seantero Bandar Lampung (menurut saya). Untuk pilihan ketiga, biasanya jika kami sedang bosan nasi, ingin yang ringan-ringan.

Karena alasan bosan dengan common choice, kami pun ambil pilihan warung makan dengan jarak terdekat: Warung Juminten. Entah nama mbaknya yang memang namanya Juminten, atau nama sekedar nama, saya tidak pernah tau. Sepertinya kami pun tidak pernah menanyakan.

Rabu, 29 Agustus 2012

Pergeseran Gaya Hidup Ikhwah

Ada yang berubah dari diri para ikhwah. (Sebenarnya, tidak ada yang salah pada perubahan. Dan memang, perubahan itu adalah sebuah kepastian. Karena di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri).
Saat kehidupan mapan, kadang membuat cara hidup yang agak berlebihan. Perilaku makan pun berubah. Makan di rumah makan mewah, sudah mulai menjadi sebuah kelumrahan. Setiap ada acara perkumpulan, cenderung diadakan di tempat makan yang mana harga makan satu porsinya setara dengan jatah makan beberapa hari ke depan.
Mencari tempat variasi makan pun bukan lagi sekedar warung makan sekelas anak kosan; Kampung Baru, Kopi, dan sekitarnya. Warung pak Adib, ibu Ros, mbak Ida, tempe bogem Uda, Kantin Sehati, dan sebagainya sudah mulai dihapus dari list kunjungan. Kini, berganti dengan KFC, Pizza Hut, Ayam bakar Syafei, Ayam Penyet Hang Dihi, Rumah Kayu, Gubuk Mas, Kampung Kelapa, hingga Pondok Bambu.

Sabtu, 28 Juli 2012

Sejarah Singkat Konflik Rohingya

Berikut ini merupakan petikan wawancara hidayatullah.com bersama Heru Susetyo terkait konflik Rohingya, Rabu, (25/07/2012).
Heru Susetyo adalah seorang praktisi hukum yang peduli atas kezhaliman yang diderita umat maupun kelompok Islam di berbagai tempat. Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI ini mendirikan Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA).
Bagaimana Sejarah Awal Muslim Rohingya?
Sejarahnya panjang. Sebagai etnis, mereka sudah hidup di sana sejak abad 7 Masehi. Tapi sebagai Muslim dengan nama kerajaan Arakan, mereka sudah mulai ada sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Jadi sekitar 3,5 abad mereka dalam kekuasaan kerajaan Muslim hingga mereka diserang oleh Kerajaan Burma, dan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu mereka dibawa menjadi bagian dari British India yang bermarkas di india. Meski India saat itu juga belum merdeka.

Jumat, 15 Juni 2012

Wanita di Balik Panggung Sejarah (Part 2)

Khadijah RA, Sang Wanita dengan Syarat Sempurna

imej: netuse.co.uk/
Sungguh, Muhammad SAW paham benar atas apa yang diucapkannya: Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena harta, karena keturunan, karena kecantikan, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.”

Khadijah, merupakan seorang istri pertama Rasulullah SAW yang menemani beliau hingga Muhammad SAW berusia 50 tahun. Atau sekitar selama 25 tahun hidup bersama pada masa awal berdakwah dalam fase sulit penuh tekanan.

Wanita satu ini begitu istimewa di hati Rasulullah SAW. Pernahkah kita terpikir akan keterkaitan keempat syarat wanita untuk dinikahi yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut dengan sang Khadijah? Ya, keempat kriteria wanita yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut, semuanya ada pada Khadijah.

Rabu, 14 Desember 2011

Candu Lawak



Jika kita perhatikan, tren tayangan televisi saat ini, maka kita akan mendapatkan fakta bahwa komedi atau lawak merupakan tontonan favorit pemirsa di tanah air.

Bagaimana tidak, semakin hari beragam program televisi terkait hiburan yang dapat membuat penonton tertawa, bermunculan dan kian tumbuh subur. Mulai yang dari benar-benar komedi, lawakan wayang orang, hingga acara yang selalu membuat para pemirsa ingin ikut tertawa bersama dengan presenternya. Sebut saja di awal-awal ada program Extravaganza, Empat Mata yang kemudian berganti Bukan Empat Mata karena terkena kasus amoral oleh KPI, Akhirnya Datang Juga, Tawa Sutera, Sketsa, Overa Van Java, dan yang cukup baru adalah Stand Up Comedy, dan Comedy Project.

Setelah saya perhatikan jadwal acara televisi kita pada saat prime time (17.00-22.00 WIB), ternyata stasiun televisi kita terbagi menjadi tiga haluan: news, sinetron, dan komedi atau hiburan. Namun dari ketiga genre ini, saya dapat pastikan mayoritas pemirsa kita berada pada posisi acara-acara yang kedua (sinetron) dan paling banyak pada yang ketiga, komedi. Genre news dapat dipastikan tidak akan banyak orang yang suka berlama-lama memantenginya, karena orang cenderung akan bosan dengan dicekoki berita buruk yang sama, yang ada disekelilingnya.

Yang akan saya bahas disini adalah genre program acara televisi yang ketiga, yakni komedi. Memang, belakangan ini program televisi yang membuat pemirsa tertawa sangat digandrungi hampir merata di setiap kalangan masyarakat. Coba saja jika tidak percaya, ketika bertemu teman di kantin kampus, atau di kelas. Ajak ia ngobrol tentang acara komedi tadi malam, bagaimana ceritanya. Pasti ia akan nyambung, dan bersemangat. Namun jangan coba-coba untuk mengajak diskusi sembarangan teman tentang acara lawyers club semalam, tidak semua teman anda akan mengerti apa yang anda kata.

Fakta seperti ini bukan tidak berdasar. Menurut saya, kenyataan bahwa masyarakat kita lebih cenderung menggemari acara-acara televisi yang menghibur dan membuat tertawa adalah karena penatnya permasalahan yang sudah dialaminya seharian. Sehingga, setelah jenuh dengan permasalahan hidup seharian penuh di siang hari, baik itu perasaan jengkel atas kemacetan yang dialami, sulitnya mencari nafkah hidup untuk anak-istri, atau bahkan sekedar pusingnya kuliah dan ribetnya tugas-tugas kuliah siang tadi.

Tidak salah memang, kenyataan seperti ini. Namun ada yang berbahaya dalam jangka panjang bagi bangsa kita. Masyarakat kita akan menjadi terlena dan terlupa dengan permasalahan yang ada. Setiap malam kita hanya akan senantiasa tertawa terbahak-bahak, seolah-olah menertawakan permasalahan hidup kita yang tak kunjung jua membaik. Kenyataan bahwa acara televisi yang intelektual tak laris, akan membuat kita menemukan fakta lain bahwa masyarakat kita akan terlena dengan tertawanya, dan tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi dengan kondisi bangsanya. Karena kurang melek terhadap diskusi intelek.


Adab Tertawa
Adapun mengenai tertawa ini hukumnya dalam Islam memang boleh. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, “Sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat, sehingga ia tertawa karenanya.” Sesuai pendapat diatas, maka hukum tertawa adalah boleh.

Dan secara Psikologis dan kesehatan pun, tertawa itu sebenarnya baik. Fakta dari para ahli menyebutkan bahwa tertawa itu:
  • Meningkatkan semangat dan kesehatan (Dr Joseph Mercola dan Rachel Droege).
  • Mengurangi dua hormon dalam tubuh yaitu eniferin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit (Dr. Lee Berk – Menuai Kesehatan dan Hikmah dari Tertawa).
  • Mengurangi rasa nyeri atau sakit (dr. Rosmary Cogan - Menuai Kesehatan dan Hikmah dari Tertawa).
  • Obat awet muda (Prof. Dr. Lucille Namehow – Menangis dan Tertawa Sama Sehatnya).
  • Mengurangi stress (Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Meningkatkan kekebalan (dr. W.M. Roan - Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Menurunkan tekanan darah tinggi (Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Mencegah penyakit (dr. William Frey - Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
·          
Namun di balik itu semua, tertawa itu sesungguhnya akan mematikan hati kita. Seperti termaktub dalam hadits: “Berhati-hatilah dengan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits shahih, Shahiibul Jaami’ (no.7435). Untuk itulah kita dianjurkan untuk tidak memperbanyak tertawa.

Dan tertawa itu dalam Islam ada batasan dan adab-adabnya:
  1. Jaafar bin Auf dari Mas’ud dari Auf bin Abdullah berkata: “Biasa Nabi Muhammad SAW tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya. (Yakni tidak suka melirik).” Hadis ini menunjukkan bahwa senyum itu sunnah dan tertawa terbahak-bahak itu makruh. Maka seharusnya orang yang sehat akal jangan tertawa terbahak-bahak sebab banyak yang tertawa di dunia akan banyak menangis di akhirat. Allah SWT berfirman: “Hendaklah kamu sedikit ketawa dan banyak menangis setelah menerima pembalasan dari amal perbuatan mereka.” (QS.At-Taubah:82)
  2.   Tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras. Dalam sebuah hadits: ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.” (HR. Al-Bukhari kitab al-Aadab bab at-Tabassum wadh Dhahik (no. 6092), al-Fat-h (X/617)

Wallahu a’lam…



Sabtu, 26 November 2011

Iltizam: Komitmen Seorang Mukmin Sejati

*taken from google
Hasan Al-Bana menegaskan bahwa awal kesiapan seseorang untuk memasuki tahapan takwin dan tanfidz ialah jika ia memiliki At Tha’atu Kaamilah atau ketaatan yang sempurna. Oleh karena itu sasaran atau ahdaf dalam berjamaah tidak akan terwujud tanpa adanya junud yang komit atau beriltizam dalam melaksanakan uslub untuk mencapai ahdaf.
Iltizam adalah komitmen terhadap Islam dan hukum-hukumnya secara utuh dengan menjadikan Islam sebagai siklus kehidupan, tolak pikir, dan sumber hukum dalam setiap tema pembicaraan dan permasalahan (Fathi Yakan). Sebagaimana perintah Allah ta’ala dalam QS 2: 208 agar seorang mukmin masuk ke dalam Islam secara kaffah.
QS 2: 208: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Dua Jenis Iltizam
Iltizam diklasifikasikan menjadi dua bagian:
  • Iltizam terhadap Syariat dan
  • Iltizam terhadap Jamaah.

Iltizam terhadap Syariat meliputi:
  1. Aqidah Salimah; Beriltizam atau memiliki komitmen terhadap aqidah shahihah. Yang dimaksud dengan aqidah salimah ialah akidah yang sehat, bersih dan murni terbebas dari segala unsur nifaq dan kemusyrikan.
  2. Ibadah Shahihah; Beriltizam atau berkomitmen terhadap ibadah yang salimah dan istimrar (kontinyu). Seorang a’dha sebagai muslim memiliki kewajiban untuk melakukan ibadah yang shahih terbebas dari segala bid’ah dan khurafat.
  3. Akhlaq Hamidah, Memiliki komitmen atau beriltizam kepada akhlaq hamidah (akhlak terpuji). Akhlaq hamidah jelas harus dimiliki oleh seorang a’dha yang beriltizam. Dan akhlaq hamidah yang dimaksud tentu saja akhlak yang Islami dan qurani.
  4. Dakwah wal Jihad, Komit atau memiliki iltizam terhadap dakwah dan jihad. Seorang a’dha yang memiliki komitmen terhadap jamaah dengan harakah, tentu saja harus memiliki iltizam terhadap dakwah dan jihad.Ada konsekuensi logis ketika seseorang beriltizam pada jihad yakni ia juga harus beriltizam terhadap segala sesuatu yang merupakan persiapan untuk itu seperti tarbiah takwiniah yang istimrar dan lain-lain.
  5. Syumul wa Tawazun. Berkomitmen atau beriltizam untuk syumul wa tawazun. Dienul Islam ajaran yang syamil (integral, komprehensif) dan mutakamil (utuh) serta mutawazinah (seimbang). Islam melarang manusia kikir, tetapi juga tidak membolehkan berlaku boros, israf ataupun melakukan kemubadziran. Jadi seorang a’dha dalam Iltizamnya terhadap syariah harus memiliki komitmen pada syumuliatul dan ketawazunan Islam.


Sedangkan Iltizam terhadap Jamaah melingkupi:
  1. Iltizam terhadap bai’ah. Transaksi ‘jual-beli’ antara Allah sebagai pembeli dan mukmin sebagai penjual ini erat kaitannya dengan masalah bai’ah. Sikap iltizam terhadap bai’ah yang telah diucapkan nampak jelas pada tokoh Anshar, Habibi bin Zaid. Ia disiksa Musailamah Al-Kadzab karena tidak mau mengakuinya sebagai nabi, tidak rela menodai bai’ah yang telah Habib bin Zaid diucapkannya walaupun untuk itu ia harus menebusnya dengan nyawa. Tubuhnya dicabik-cabik dan disayat-sayat selagi masih hidup. Sekali kita mengucapkan bai’ah seumur hidup kita terikat untuk beriltizam kepadanya.
  2. Komit terhadap Ansyithah (kegiatan-kegiatan) baik yang kharijiah (eksternal) maupun dakhiliyah (internal). Kegiatan internal seperti berusaha selalu hadir dengan tepat waktu dalam acara rutinyang diadakan secara berkala.Intensitas keterlibatan kita yang tinggi dengan semua kegiatan jama’ah insya Allah akan membuat iltizam kita kepada jamaah semakin kokoh.
  3. Beriltizam terhadap wazhifah (tugas-tugas) yang dibebankan jamaah kepadanya. Iltizam atau komitmen terhadap tugas yang dipikulkan pada kita merupakan aspek yang pokok dan mendasar dalam hubungan struktural tanzhim, seorang a’dha harus menyesuaikan diri dengan segala tugas yang dipikulkan ke pundaknya. Baik tugas itu disukai atau tidak dan baik ia sedang rajin maupun malas.
  4. Iltizam atau komit terhadap infaq. Keutamaan berinfaq atau berjuang dengan harta dan jiwa (QS 9: 111, 61:10-11) sangat sering diungkapkan dalam firman-firman Allah. Bahwa ia akan membalasnya dengan beratus-ratus kali lipat, bahkan dengan surga.Maka suatu kewajaranlah bila kita yang telah berbaiat ini terikat untuk memenuhi kewajiban berinfaq, baik yang wajib maupun yang sunnah.
  5. Beriltizam terhadap Qararat (keputusan-keputusan) jamaah. Seorang a’dha harus berusaha menjalankan tugasnya sebaik-baiknya di manapun ia diputuskan oleh jamaah untuk ditempatkan. Ia terikat dengan keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan jamaah dengan perintah-perintah qiyadah. Sekalipun bertentangan dengan keinginan dan pendapat pribadi. Hendaknya kita harus selalu berprasangka baik bahwa keputusan tersebut adalah yang paling tepat untuk mendatangkan kemaslahatan.
  6. Komit terhadap “Tha’atul Qiyadah”. Ketaatan seorang muslim yang total, utuh dan bulat, memang hanya kepada Allah dan Rasul-Nya (QS 3: 31, 32, 132, 4: 59, 80). Namun di ayat 4: 59 itu pun disebutkan kewajiban taat kepada pemimpin atau ulil amri yang beriman sepanjang tidak dalam rangka kemaksiatan dijalan Allah.Seorang a’dha yang telah mengucapkan bai’ah untuk taat dalam giat atau malas, suka atau tidak suka keadaan harus menaati qiyadahnya atau naqibnya sebagai sosok kepemimpinan dalam jamaah yang terdekat dengannya.

(disarikan dari berbagai sumber)

    Sabtu, 12 November 2011

    Arqam bin Abil Arqam: Sosok Kunci Kesuksesan Dakwah


    Sebagian banyak kita dapat dipastikan mengenal sahabat Rasulullah yang bernama Abdurrahman bin Auf. Ia seorang pedagang, yang mana di tangan dinginnya keuntungan berlipat ganda dengan cepat. Ia dikenal dengan salah satu kisah dimana ketika rombongan Rasulullah hijrah dan kaum muhajirin dan anshar saling dipersaudarakan, setiap anshar membagi hartanya kepada setiap muhajirin. Namun kala itu Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Sa’ad bin rabi’ Al Anshori ditawari satu dari dua istri dan satu dari dua kebun yang sangat luas oleh saudara ansharnya tersebut, menolak, dan ia berkata “Cukup tunjukkan saja aku di mana pasar”.

    Kita juga mungkin mengenal Mus’ab bin Umair, sahabat Rasulullah yang terkenal akan ketampanan dan keglamourannya. Kala itu, ia menjadi trendsetter kalangan muda modis nan trendy. Karena paras dan penampilannya tersebut, Ia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah dimanapun ia berada.
    Selain kedua nama-nama sahabat Rasulullah di atas, dan para sahabat yang empat, masih banyak lagi nama-nama sahabat yang tenar, yang lumrah kita dengar dan nama beserta kelebihan-kelebihan mereka banyak disebut-sebut dalam sirah nabawiyah.

    Namun, apa yang ada dibenak kita jika mendengar nama sahabat yang satu ini: Arqam bin Abil Arqam?

    Memang benar, ia yang bernama lengkap Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam, merupakan orang ketujuh dari Assabiqunal Awwalun, golongan sahabat yang pertama memeluk Islam. Dan rumahnya berlokasi di bukit Safa, yang merupakan basecamp untuk berdakwah nabi pada masa dakwah sirri, sembunyi-sembunyi.

    Tetapi ada yang menarik dari sosok sahabat yang satu ini. Ia sama sekali tidak terkenal. Kita tidak tahu kelebihannya apa jika dibandingkan seperti sahabat-sahabat lain seperti yang disebutkan di atas tadi. Padahal jika kita perhatikan dalam sirah, dengan digunakannya rumah beliau sebagai markaz utama dakwah dalam fase dakwah awal tersebut, dapat dipastikan ia merupakan salah satu anggota ring satu-nya nabi Muhammad SAW.

    Bahkan saking tidak terkenalnya, saya mencari Arqam bin Abil Arqam ini dalam sirah nabawiyah (saya baru mencari dalam sirah nabawiyah-nya Al-Mubarakfury dan Dr. Al-Buthy), namanya hanya beberapa kali tersebut, namun cerita mengenainya sama sekali tidak termaktub. Saya mencari dengan bantuan paman Google, hasilnya pun begitu. Dalam hasil pencarian paman Google tersebut namanya hanya muncul dalam artikel mengenai fase dakwah awal Rasulullah SAW, dan mengenai sahabat-sahabat yang lain. Sama sekali tidak ada yang mengurai cerita syumul perihal sahabat yang satu ini.

    Selain itu, dari salah satu sumber yang pernah saya baca (namun kini lupa^^), nama bapak dari sahabat yang satu ini pun sama sekali tidak dikenali dalam sejarah. Sehingga, para sejarawan terpaksa mengidentifikasi sahabat ini dengan menyebut nama bapaknya dengan sebutan  “Abil Arqam”; menjadi Arqam bin “Bapaknya Arqam”.

    Namun ternyata kalau kita pikir-pikir, justru sebenarnya kelebihannya ada di sini, pada ketidakterkenalan-nya sahabat yang satu ini. Dengan tidak terkenalnya ia, maka dapat dipastikan orang-orang kota Mekkah pun tidak begitu peduli apa yang terjadi di dalam rumahnya. Terlebih, rumahnya tersebut berada di pinggiran kota Mekkah, di Bukit Safa. Dan dapat kita bayangkan hiruk pikuknya kota Mekkah yang merupakan kota suci tujuan sentral peziarah agama samawi seperti ini, sekaligus sebagai salah satu kota transit perdagangan kafilah-kafilah, tentunya kecil kemungkinan orang-orang akan memperhatikan siapa dan apa yang dilakukan orang lain. 

    Dengan fakta seperti ini, maka dengan menggunakan kediaman Arqam bin abil Arqam tentunya akan sangat menguntungkan dalam menyebarkan dakwah awal secara sembunyi-sembunyi.  Pergerakan yang dilakukan di rumahnya tidak akan mudah dicurigai oleh masyarakat, karena orang-orang tentunya tidak menyangka adanya keterkaitan Rasulullah dengan sahabat yang satu ini.

    Mungkin ini merupakan sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari sahabat Rasulullah yang satu ini. Ia merupakan salah satu orang penting dalam proses pergerakan, namun ia tidak memerlukan sebuah ketenaran. Perannya penting, namun tidak mengharapkan pujian. Seorang penyokong utama sebuah keberhasilan dakwah, namun riwayat hidupnya tidak tersampaikan oleh sejarah. Sungguh sebuah kerja besar yang ikhlas.

    Berbicara mengenai Arqam bin Abil Arqam, sayapun menjadi teringat akan sebuah prinsip hidup seorang intelijen: “Berani tidak dikenal, mati tidak dicari, berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki”. Mungkin peran sahabat mulia satu ini bisa kita kaitkan juga dengan peranan besar berkaitan intelijen. Atau juga bisa saja kita menyebutnya dengan tokoh dasar dunia intelijen. Perannya sangat rahasia. Ia berani tidak dikenal oleh sejarah, demi keberhasilan sebuah dakwah. Cerita bagaimana ia wafatpun secara pribadi (lagi-lagi) belum saya temui. Perannya pun tidak banyak dipuji. Meskipun begitu, terang ia tidak pernah gagal samasekali.

    Dan bagi saya, sebenarnya cukup satu yang dapat kita simpulkan, ia merupakan tokoh besar yang bekerja dengan ikhlas, tanpa perlu sebuah pujian, apalagi ketenaran.

    Wallahu a’lam…

    ***
    #Artikel ini telah terbit juga di Dakwatuna.com


    Minggu, 06 November 2011

    Menjadi Haji Mabrur tanpa Pergi Haji


    Suatu ketika Hasan Al-Basyri menunaikan ibadah haji. Ketika beliau sedang istirahat, beliau bermimpi. Dalam mimpinya beliau melihat dua Malaikat sedang membicarakan sesuatu.
    "Rasanya orang yang menunaikan haji tahun ini, banyak sekali", komentar salah satu Malaikat.
    "Betul" Jawab yang lainya
    "Berapa kira - kira jumlah keseluruhan?"
    "Tujuh ratus ribu"
    "Pantas"
    "Eh, kamu tahu nggak, dari jumlah tersebut berapa kira - kira yang mabrur", selidik Malaikat yang mengetahui jumlah orang - orang haji tahun itu.
    "Wah, itu sih urusan Allah"
    "Dari jumlah itu, tak satupun yang mendapatkan haji Mabrur"
    "Kenapa?"
    "Macam - macam, ada yang karena riya’, ada yang tetangganya lebih memerlukan uang tapi tidak dibantu dan dia malah haji, ada yang hajinya sudah berkali - kali, sementara masih banyak orang yang tidak mampu, dan berbagai sebab lainya".
    "Terus?"
    "Tapi masih ada, orang yang mendapatkan Pahala haji mabrur, tahun ini"
    "Lho katanya tidak ada"
    "Ya, karena orangnya tidak naik haji"
    "Kok bisa"
    "Begitulah"
    "Siapa orang tersebut?"
    "Sa'id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq"

    Mendengar ucapan itu, Hasan Al-Basyri langsung terbangun. Sepulang dari Makkah, ia tidak langsung ke Mesir, tapi langsung menuju kota Damsyiq ( Siria ). Sesampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol
    sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa'id bin Muhafah. "Ada, ditepi kota" Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

    Sesampai disana Hasan Al-Basyri menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh, "Benarkah anda bernama Sa'id bin Muhafah?" tanya Hasan Al-Basyri. "Betul, kenapa?"
    Sejenak Hasan Al-Basyri kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya. "Sekarang saya tanya, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur, barang kali mimpi itu benar"
    selidik Hasan Al-Basyri sambil mengakhiri ceritanya.

    "Saya sendiri tidak tahu, yang pasti sejak puluhan tahun yang lalu saya memang sangat rindu Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Mulai saat itu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Dan pada tahun ini biaya itu sebenarnya telah terkumpul"
    "Tapi anda tidak berangkat haji"
    "Benar"
    "Kenapa?"
    "Waktu saya hendak berangkat ternyata istri saya hamil, dan saat itu dia ngidam berat" "Terus?"
    "Ngidamnya aneh, saya disuruh membelikan daging yang dia cium, saya cari sumber daging itu, ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh, disitu ada seorang janda dan enam anaknya.

    Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin daging yang ia masak, meskipun secuil. Ia bilang
    tidak boleh, hingga saya bilang bahwa dijual berapapun akan saya beli, dia tetap mengelak. akhirnya saya tanya kenapa?..
    "Daging ini halal intuk kami dan haram untuk tuan" katanya.
    "Kenapa?" tanyaku lagi.
    "Karena daging ini adalah bangkai keledai, bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakanya tentulah kami akan mati kelaparan," Jawabnya sambil menahan air mata.

    Mendengar ucapan tersebut sepontan saya menangis, lalu saya pulang, saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, akhirnya uang bekal hajiku kuberikan semuanya untuk dia".
    Mendengar cerita tersebut Hasan Al-Basyripun tak bisa menahan air mata."Kalau begitu engkau memang patut mendapatkanya" Ucapnya.
     
    Wallahu a'lam.





     











    copied from: http://bungaakoe.blogspot.com/

    Sabtu, 15 Oktober 2011

    Pemimpin Negara Berpakaian Bertambal yang Menaklukkan Dunia


    Pada tahun 634 M, terjadi pertempuran dahsyat antara pasukan Islam dan Romawi di dataran Yarmuk. Imperium Romawi mengerahkan 300.000 tentaranya, sedangkan tentara Muslimin hanya 46.000 orang. Walaupun tidak terlatih dan berperlengkapan perang yang tidak memadai, pasukan Muslimin berhasil mengalahkan tentara Romawi. Sekitar 100.000 orang serdadu Romawi tewas sedangkan di pihak Muslimin tidak lebih dari 3000 orang yang tewas dalam pertempuran itu. Ketika Caesar diberitakan dengan kekalahan di pihaknya, dengan sedih ia berteriak: "Selamat tinggal Syria," dan dia mundur ke Konstantinopel.

    Beberapa prajurit yang melarikan diri dari medan pertempuran Yarmuk, mencari perlindungan di antara dinding-dinding benteng kota Yerusalem. Kota dijaga oleh garnisun tentara yang kuat dan mereka mampu bertahan cukup lama. Akhirnya uskup agung Yerusalem mengajak berdamai, tapi menolak menyerah kecuali langsung kepada Khalifah sendiri. Umar mengabulkan permohonan itu, menempuh perjalanan di Jabia tanpa pengawalan dan arak-arakan kebesaran, kecuali ditemani seorang pembantunya. Ketika Umar tiba di hadapan uskup agung dan para pembantunya, Khalifah menuntun untanya yang ditunggangi pembantunya. Para pendeta Kristen lalu sangat kagum dengan sikap rendah hati Khalifah Islam dan penghargaannya pada persamaan martabat antara sesama manusia. Uskup agung dalam kesempatan itu menyerahkan kunci kota suci kepada Khalifah dan kemudian mereka bersama-sama memasuki kota. Ketika ditawari bersembahyang di dalam gereja Kebaktian, Umar menolaknya dengan mengatakan, “ Terima kasih tuan. Saya sengaja sembahyang di luar supaya di belakang hari kelak jangan ada orang berkata bahwa Umar telah menukar gereja menjadi masjid, lalu diikuti pula oleh kaum muslimin yang lain".

    Syarat-syarat perdamaian yang adil ditawarkan kepada orang Kristen. Dalam perjanjian damai tersebut Umar r.a. melarang tindak kekerasan terhadap orang-orang Kristen. Sedangkan kepada orang-orang Yahudi, yang membantu orang Muslimin, hak milik mereka dikembalikan tanpa harus membayar pajak apa pun.

    Sejarahwan Imam At-Thabari menceritakan, dalam menaklukan musuhnya, khalifah Umar al-Faruq banyak menekankan pada segi moral, dengan menawarkan syarat-syarat yang lunak, dan memberikan mereka segala macam hak yang bahkan dalam abad modern ini tidak pernah ditawarkan kepada suatu bangsa yang kalah perang. Hal ini sangat membantu memenangkan simpati rakyat. Ia melarang keras tentaranya membunuh orang yang lemah dan menodai kuil serta tempat ibadah lainnya. Sekali suatu perjanjian ditandatangani, ia harus ditaati, yang tersurat maupun yang tersirat.

    Kebesaran Khalifah Umar juga terlihat dalam perlakuannya yang simpatik terhadap warganya yang non Muslim. Ia mengembalikan tanah-tanah yang dirampas oleh pemerintahan jahiliyah kepada yang berhak yang sebagian besar non Muslim. Ia berdamai dengan orang Kristen Elia yang menyerah. Syarat-syarat perdamaiannya ialah: "Inilah perdamaian yang ditawarkan Umar, hamba Allah, kepada penduduk Elia. Orang-orang non Muslim diizinkan tinggal di gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah tidak boleh dihancurkan. Mereka bebas sepenuhnya menjalankan ibadahnya dan tidak dianiaya dengan cara apa pun." Menurut Imam Syafi'i ketika Khalifah mengetahui seorang Muslim membunuh seorang Kristen, ia mengijinkan ahli waris almarhum menuntut balas. Akibatnya, si pembunuh dihukum penggal kepala.

    Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan terhadap prestasi Umar berkomentar: "Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh."

    Begitulah ketinggian akhlak sang khalifah, Umar bin Khattab. Dan begitulah Islam mengajarkan hidup dengan sesama manusia.
    ***

    dinukil dari:

    LinkWithin

    Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...