Label

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Mei 2013

Konglomerasi Media dan Independensi Berita

Media merupakan salah satu fungsi sosial kontrol di masyarakat. Selain elemen gerakan mahasiswa, media lah yang kemudian diharapkan mampu membersihkan kerusakan yang merata dalam tiga pilar demokrasi. Pada era Orde Baru, korupsi dan kebobrokan sudah menjalar di seluruh lembaga pemerintahan hingga penegak keadilan. Memasuki Reformasi hingga kini, tak jua menunjukkan ada sinyal perbaikan. Dahulu korupsi terjadi dalam taraf pimpinan, kini kerusakan merata ke seluruh lapisan, terstruktur hingga ke lapisan terbawah dalam sistem.


Parahnya lagi, lembaga perwakilan rakyat maupun penegak keadilan, tak jauh berbeda dengan lembaga eksekutif. Lembaga Yudikatif yang semestinya bertindak sebagai penegak kebenaran dan membersihkan lembaga lainnya, justru ikut rusak. Ibarat kata pepatah, hendak mengawetkan ikan dengan garam, namun garamnya sendiri telah rusak. Keadilan menjadi sebuah monopoli bagi orang-orang yang memiliki uang dan jabatan.

Minggu, 03 Maret 2013

Media Para Sengkuni


Ketika menyaksikan berita negatif di media, saya seringkali terngiang kalimat pemimpin India pada masa kejayaan Soekarno; Jawaharlal Nahru. Beliau berujar: "berteriak dari atap rumah bahwa orang-orang telah korup akan membuat sebuah atmosfer korupsi. Orang-orang akan merasa bahwa mereka hidup dalam iklim yang korup, dan pada akhirnya mereka akan rusak dengan sendirinya."

Ini yang saya cemaskan dengan media saat ini. Betapa simalakama pengaruh media dalam masyarakat. Mungkin kita tidak akan benar-benar menemukan orang yang berteriak-teriak seperti orang gila dari atas rumahnya melantangkan bahwa dunia ini telah rusak. Tapi ada yang mungkin tidak kita sadari. Bahwa kenyataannya hampir setiap hari kita menelan dengan senang hati berita-berita buruk yang dibisikkan oleh televisi, koran, hingga situs berita online. Dan sebagian besar kanal berita tersebut mencekoki pikiran pemirsanya dengan berita-berita beraura negatif. Celakanya lagi, mayoritas penebar atmosfer kerusakan tersebut adalah media-media mainstream, yang paling banyak dinikmati masyarakat kita. Sebut saja langsung. Seperti situs berita Tribun, Detik, Tempo, hingga stasiun Indosiar, SCTV, Global, dan lain sebagainya.

Kamis, 15 November 2012

Haram Sholat Pakai Kaos Oblong


Ini obrolan khusus untuk kalangan kaum lelaki. Yaitu ketika para lelaki berangkat sholat ke mushola/masjid. Pernahkah kita memperhatikan rekan-rekan sekalian ketika hendak sholat berjamaah? Atau tak perlu jauh-jauh, kembalikan saja pertanyaan berikut ini pada diri sendiri. Pakaian seperti apa yang kita kenakan ketika berangkat untuk sholat berjamaah ke masjid?

Marilah sejenak kita memperhatikan anjuran/perintah Allah yang cukup mudah yang terdapat di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A’raf ayat 31: “Wahai anak cucu Adam, Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid…”. Dalam ayat tersebut, fokus redaksinya: “Pakailah pakaianmu yang bagus.” Disini saya menebalkan kata yang bagus.

Bisa kita sadari, betapa Allah SWT sangat memahami keadaan seluruh umat muslim: tidak semuanya berpunya. Betapa anjuran Allah SWT ini sangat ringan. Bukan perintah untuk mengenakan pakaian terbagus, tetapi pakaianmu yang bagus. Terbayang jika orang miskin yang setahun saja belum tentu beli pakaian baru diperintahkan untuk memakai pakaian terbagus. Mereka pasti tak punya. Tetapi, pakaiannya yang terbagus dari yang dia miliki, pasti ada. Meskipun mungkin tak akan menandingi pakaian terjelek milik orang kaya.

Kamis, 01 November 2012

Waspada Pemancing Isu etnis di Air Keruh

Pada edisi 21 september 1967, Harian Angkatan Bersenjata memberitakan bahwa ada Sembilan orang Dayak diculik kelompok GTK (Gerombolan Tjina Komunis). Dua hari kemudian, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) menemukan mayat mereka. Beberapa hari kemudian , di Koran yang sama, juru bicara Kodam XII Tanjunjgpura mengatakan bahwa , “ Dayak seharusnya menuntut balas, darah dengan darah.”  
***
Kala itu Soekarno sedang menggelorakan Komando Dwikora (Ganyang Malaysia). Dalam komando tersebut, ada dua kelompok gerilyawan lokal yang mendukung penuh sikap Jakarta tersebut: Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku). Dua kelompok ini  merupakan pendukung komunis yang terdiri dari etnis Tionghoa yang tinggal di wilayah Kalimantan yang saat itu sedang disengketakan antara Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Mereka menolak hegemoni Barat yang hendak mendirikan negara federasi Malaysia. TNI bersinergi dengan dua kelompok gerilyawan ini dalam  mengusir tentara-tentara Inggris dan sekutu pro-Malaysia di Kalimantan.

Rabu, 24 Oktober 2012

Perbincangan Meja Makan

Selepas magrib, saya keluar. Jika biasanya bersama dengan yang lainnya -hampir 5 sekawan, kali ini hanya bersama seorang kawan. Kami mencari makan. Seperti lumrahnya, tak banyak pilihan kami. Kalau tidak ke warung Pak Adib, Juminten, atau nyari mie ayam/bakso. Pilihan pertama merupakan common choice, pilihan paling standar bagi kami. Di warung inilah kami paling sering membungkus nasi. Karena, harganya paling murah di antara warung makan seantero Bandar Lampung (menurut saya). Untuk pilihan ketiga, biasanya jika kami sedang bosan nasi, ingin yang ringan-ringan.

Karena alasan bosan dengan common choice, kami pun ambil pilihan warung makan dengan jarak terdekat: Warung Juminten. Entah nama mbaknya yang memang namanya Juminten, atau nama sekedar nama, saya tidak pernah tau. Sepertinya kami pun tidak pernah menanyakan.

Rabu, 29 Agustus 2012

Pergeseran Gaya Hidup Ikhwah

Ada yang berubah dari diri para ikhwah. (Sebenarnya, tidak ada yang salah pada perubahan. Dan memang, perubahan itu adalah sebuah kepastian. Karena di dunia ini tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri).
Saat kehidupan mapan, kadang membuat cara hidup yang agak berlebihan. Perilaku makan pun berubah. Makan di rumah makan mewah, sudah mulai menjadi sebuah kelumrahan. Setiap ada acara perkumpulan, cenderung diadakan di tempat makan yang mana harga makan satu porsinya setara dengan jatah makan beberapa hari ke depan.
Mencari tempat variasi makan pun bukan lagi sekedar warung makan sekelas anak kosan; Kampung Baru, Kopi, dan sekitarnya. Warung pak Adib, ibu Ros, mbak Ida, tempe bogem Uda, Kantin Sehati, dan sebagainya sudah mulai dihapus dari list kunjungan. Kini, berganti dengan KFC, Pizza Hut, Ayam bakar Syafei, Ayam Penyet Hang Dihi, Rumah Kayu, Gubuk Mas, Kampung Kelapa, hingga Pondok Bambu.

Jumat, 15 Juni 2012

Wanita di Balik Panggung Sejarah (Part 2)

Khadijah RA, Sang Wanita dengan Syarat Sempurna

imej: netuse.co.uk/
Sungguh, Muhammad SAW paham benar atas apa yang diucapkannya: Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena harta, karena keturunan, karena kecantikan, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.”

Khadijah, merupakan seorang istri pertama Rasulullah SAW yang menemani beliau hingga Muhammad SAW berusia 50 tahun. Atau sekitar selama 25 tahun hidup bersama pada masa awal berdakwah dalam fase sulit penuh tekanan.

Wanita satu ini begitu istimewa di hati Rasulullah SAW. Pernahkah kita terpikir akan keterkaitan keempat syarat wanita untuk dinikahi yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut dengan sang Khadijah? Ya, keempat kriteria wanita yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut, semuanya ada pada Khadijah.

Kamis, 14 Juni 2012

Para Aktivis (seharusnya belajar) Individualis

gambare seko: jaringnews.com
Apa yang ada di benak kita ketika mendengar kata aktivis?

Dan apa pula yang akan muncul dalam imajinasi kita saat kata tersebut disandingkan dengan sebuah frasa kuliah lama?

Yah, sangat bertolak belakang memang. Dalam sebuah diskusi, saya pernah mendapatkan sebuah arti dari kata aktivis tersebut, yakni orang-orang yang selalu galau akan permasalahan yang ada di sekitarnya, dan dengan itu melakukan perubahan secara terorganisir. Luar biasa, sungguh wah memang definisi kata aktivis tersebut.

Namun mengapa jika kita coba iseng sandingkan kata tersebut dengan frasa yang kedua, menghasilkan perspektif yang negatif?

Jumat, 08 Juni 2012

Memilih Pemimpin Bernurani

image source:
febrian-np.blogspot.com
Adakah kini kita temui, sesosok pemimpin bersahaja negeri ini, seperti Soekarno, diatas meja makannya ia pasang lukisan seorang pengemis, agar dia dapat selalu ingat saat menyantap sayur lodeh, tahu, dan tempe kesukaannya, bahwa rakyatnya masih ada yang kelaparan.

Atau masihkah kini kita jumpai seorang pribadi yang tegas, tak malu dengan sebuah identitas layaknya Agus Salim. Saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, ia memakai sarung, peci hitam, dan dengan percaya diri menghisap rokok kretek di antara kumpulan petinggi penjajah tersebut. Saat diprotes karena bau menyengat dari rokoknya tersebut, dia dengan mantap berujar: “Tuan tuan, benda inilah yang membuat tuan-tuan datang dan menjajah negeri kami”


Nampaknya kini sekelumit contoh kesederhanaan dan kesahajaan di atas akan sangat sulit kita temui, yang banyak kita temukan dari pemimpin kita justru sikap-sikap yang senantiasa mengerdilkan bangsa kita sendiri.

Sabtu, 02 Juni 2012

Wanita di Balik Panggung Sejarah (Part 1)

Inggit Garnasih: Peran Besar yang Tersisih

image source:
officialfilmindonesia.blogspot.com
Dibalik seorang pahlawan, selalu ada sesosok wanita tangguh. Ungkapan ini sudah sering kita dengar. Tapi sepertinya saya baru memahami kalimat ini ketika saya mengikuti sebuah agenda silaturahim ke sejarawan nasional Anhar Gonggong, beberapa bulan lalu. Dalam diskusi ringan di kediaman sejarawan kontroversial ini, beliau mengungkapkan betapa besarnya jasa seorang Ibu Inggit Garnasih di balik kesuksesan Bung Karno.

Ketika Soekarno menikah dengan Inggit, ia saat itu masih berstatus mahasiswa. Sedangkan Inggit saat itu telah menyandang status janda.  Usia mereka terpaut cukup jauh, Inggit lebih tua 12 tahun. Inggit melakukan banyak hal untuk mendukung aktivitas Soekarno, saat Soekarno sibuk berkutat dengan dunia pergerakan kampusnya di Bandung. Bahkan dalam sebuah ungkapannya, Anhar Gonggong mengistilahkan bahwa Soekarno tersebut sekolah dan penghidupannya saat itu dibiayai oleh Inggit.

Jumat, 01 Juni 2012

Sebuah Konsep Pendidikan Ideal

image source: www.antarabali.com
Pengumuman kelulusan UN selalu menghadirkan dua sisi emosional yang sangat kontras. Di satu sisi, hampir sebagian besar pelajar yang mendapatkan kelulusan terutama di kota besar merayakannya dengan suka-ria dan hura-hura yang berlebihan. Mulai dari konvoi kendaraan beramai-ramai, hingga mencoret-coret baju seragam. Di lain pihak, para pelajar yang tidak lulus menangis sejadi-jadinya, hingga tak jarang kita dapatkan berita percobaan bunuh diri karena frustasi.

Selasa, 24 April 2012

Ketika Polisi Mati Suri

Salah satu fungsi negara adalah memberikan pertahanan dan keamanan kepada warganya.  Negara harus bisa memberi rasa aman serta menjaga dari segala macam gangguan dan ancaman yang datang dari dalam maupun dari luar. Dalam hal ini, fungsi pertahanan (ancaman dari luar) dilaksanakan oleh TNI, sedangkan fungsi keamanan (ancaman dari dalam) berada dalam tanggung jawab Kepolisian.

Melihat pemberitaan di media masaa dan kondisi yang kita rasakan langsung saat ini, sangat tepat jika kita nyatakan bahwa negara kita sedang dalam keadaan terancam dari dalam. Negeri kita bukan sedang diserang oleh negara tetangga, tetapi sedang digerogoti oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab di dalam negeri.

Rabu, 22 Februari 2012

Jika Aku Memimpin Negeri ini (Part 3, End)


Pada bidang pendidikan, saya tidak ingin menekankan pada renumerasi gaji guru. Namun yang ingin saya capai adalah gerakan mengajar dari hati, dengan berlandaskan nilai. Setiap guru akan saya programkan untuk bukan hanya sekedar mengajarkan materi pelajaran. Mereka akan saya programkan agar mengajarkan nilai-nilai agama maupun moral dalam setiap jam pelajaran maupun keseharian mereka. Akan saya gawangi kurikulum khusus sehingga mata pelajaran dan nilai-nilai agama dan moral terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Akan saya buat tim kerja khusus untuk menerapkan sekaligus memantau kinerja para pendidik tersebut.

Sabtu, 18 Februari 2012

Jika Aku Memimpin Negeri ini (Part 2)


Setelah keteladanan, maka yang kemudian akan saya tekankan adalah lapangan pekerjaan. Bagaimana rakyat mau makan kalau tidak punya pekerjaan. Kalau rakyat tidak bisa makan, bagaimana mereka akan hidup tenang dan nyaman? Rakyat akan cenderung emosional ketika perutnya kosong, dan akan cenderung frustasi saat tidak memiliki pekerjaan.

Untuk mengefektifkan jumlah lapangan pekerjaan yang sudah saat ini, saya akan membuat peraturan dimana perusahaan-perusahaan harus dibatasi para pegawai asingnya. Pegawai-pegawainya harus orang-orang pribumi, dan gajinya pun yang tak boleh kalah tinggi dengan para pekerja asing yang ada. Jika ada perusahaan yang tidak mau menaikkan gaji karyawannya ke taraf sejahtera, maka saya akan lebih memilih untuk mancabut ijinnya.

Kamis, 16 Februari 2012

Jika Aku Memimpin Negeri ini (Part 1)


Bangsa yang makmur dan sejahtera bukanlah diukur dari kemegahan bangunan hasil peradabannya, bukan dari seberapa luas wilayah wilayah, maupun seberapa banyak sumber daya alamnya. Tetapi kemakmuran dan kesejahteraan suatu bangsa tercipta dari rasa syukur dalam terhadap anugerah yang diberikan Illahi. Sedangkan rasa syukur tersebut dibuktikan dengan kemampuan memanage segala karunia Ilahi. Seperti yang tersirat dalam ayat alquran: ”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik (Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’:15).

Kamis, 26 Januari 2012

Surat Cinta untuk Rektor Unila


Kepada Rektor kami tercinta, Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.Si. Saya sebagai mahasiswa disini mewakili seluruh rekan-rekan mahasiswa Universitas Lampung hendak menyampaikan ungkapan kami dari hati kepada Bapak Rektor sebagai ayahanda kami semua.

Belakangan ini semakin banyak permasalahan terkait universitas kita tercinta. Yang sangat baru-baru ini adalah terkait konversi lahan hijau menjadi lahan parkir para pejabat rektorat. Seperti kita ketahui bahwa lahan ini merupakan arena tempat sebagian besar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Unila melakukan aktifitasnya, baik itu latihan beladiri, baris-berbaris, diskusi, dan sebagainya.

Minggu, 01 Januari 2012

Dunia dalam Genggaman Kaum Globalis (Part1)

Prolog:

Saya bukanlah seorang yang tergila-gila pada teori konspirasi, tetapi saya cukup meyakini akan gerakan massif dari kaum yahudi untuk menguasai dan merusak dunia ini. Setidaknya bagi saya, membaca sesuatu mengenai teori dan fakta konspirasi, itu akan membuat saya mengetahui tentang betapa kejinya teori konsirasi dlm hantaran globalisasi.
Dan kita akan mendapatkan sebuah fokusan dalam pandangan dan gerakan. Bahwa musuh abadi kita sebagai umat manusia adalah kebathilan. Bukan saudara-saudara kita, atau bahkan pemimpin-pemimpin bangsa kita. Kita ini bagi mereka hanya seperti domba-domba tersesat, yg sedang mereka adu domba. Dan kebathilan utama yang ada di muka bumi saat ini adalah konspirasi daripada umat yahudi.
***

Perekonomian negara-negara barat saat ini sedang terguncang hebat. Baik eropa, maupun amerika, pasar sahamnya saat ini seperti sedang pingsan. Berbagai demonstrasi besar-besaran terjadi di berbagai daerah di amerika,  dengan tema serupa: Occupy Wallstreet. Menunjukkan betapa masyarakat barat sendiri sudah tidak percaya lagi terhadap pasar bursa saham negaranya.

Rabu, 14 Desember 2011

Candu Lawak



Jika kita perhatikan, tren tayangan televisi saat ini, maka kita akan mendapatkan fakta bahwa komedi atau lawak merupakan tontonan favorit pemirsa di tanah air.

Bagaimana tidak, semakin hari beragam program televisi terkait hiburan yang dapat membuat penonton tertawa, bermunculan dan kian tumbuh subur. Mulai yang dari benar-benar komedi, lawakan wayang orang, hingga acara yang selalu membuat para pemirsa ingin ikut tertawa bersama dengan presenternya. Sebut saja di awal-awal ada program Extravaganza, Empat Mata yang kemudian berganti Bukan Empat Mata karena terkena kasus amoral oleh KPI, Akhirnya Datang Juga, Tawa Sutera, Sketsa, Overa Van Java, dan yang cukup baru adalah Stand Up Comedy, dan Comedy Project.

Setelah saya perhatikan jadwal acara televisi kita pada saat prime time (17.00-22.00 WIB), ternyata stasiun televisi kita terbagi menjadi tiga haluan: news, sinetron, dan komedi atau hiburan. Namun dari ketiga genre ini, saya dapat pastikan mayoritas pemirsa kita berada pada posisi acara-acara yang kedua (sinetron) dan paling banyak pada yang ketiga, komedi. Genre news dapat dipastikan tidak akan banyak orang yang suka berlama-lama memantenginya, karena orang cenderung akan bosan dengan dicekoki berita buruk yang sama, yang ada disekelilingnya.

Yang akan saya bahas disini adalah genre program acara televisi yang ketiga, yakni komedi. Memang, belakangan ini program televisi yang membuat pemirsa tertawa sangat digandrungi hampir merata di setiap kalangan masyarakat. Coba saja jika tidak percaya, ketika bertemu teman di kantin kampus, atau di kelas. Ajak ia ngobrol tentang acara komedi tadi malam, bagaimana ceritanya. Pasti ia akan nyambung, dan bersemangat. Namun jangan coba-coba untuk mengajak diskusi sembarangan teman tentang acara lawyers club semalam, tidak semua teman anda akan mengerti apa yang anda kata.

Fakta seperti ini bukan tidak berdasar. Menurut saya, kenyataan bahwa masyarakat kita lebih cenderung menggemari acara-acara televisi yang menghibur dan membuat tertawa adalah karena penatnya permasalahan yang sudah dialaminya seharian. Sehingga, setelah jenuh dengan permasalahan hidup seharian penuh di siang hari, baik itu perasaan jengkel atas kemacetan yang dialami, sulitnya mencari nafkah hidup untuk anak-istri, atau bahkan sekedar pusingnya kuliah dan ribetnya tugas-tugas kuliah siang tadi.

Tidak salah memang, kenyataan seperti ini. Namun ada yang berbahaya dalam jangka panjang bagi bangsa kita. Masyarakat kita akan menjadi terlena dan terlupa dengan permasalahan yang ada. Setiap malam kita hanya akan senantiasa tertawa terbahak-bahak, seolah-olah menertawakan permasalahan hidup kita yang tak kunjung jua membaik. Kenyataan bahwa acara televisi yang intelektual tak laris, akan membuat kita menemukan fakta lain bahwa masyarakat kita akan terlena dengan tertawanya, dan tidak tahu persis apa yang sesungguhnya terjadi dengan kondisi bangsanya. Karena kurang melek terhadap diskusi intelek.


Adab Tertawa
Adapun mengenai tertawa ini hukumnya dalam Islam memang boleh. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, “Sesungguhnya tertawa itu termasuk tabiat manusia. Binatang tidak dapat tertawa, karena tertawa itu datang setelah memahami dan mengetahui ucapan yang didengar atau sikap dari gerakan yang dilihat, sehingga ia tertawa karenanya.” Sesuai pendapat diatas, maka hukum tertawa adalah boleh.

Dan secara Psikologis dan kesehatan pun, tertawa itu sebenarnya baik. Fakta dari para ahli menyebutkan bahwa tertawa itu:
  • Meningkatkan semangat dan kesehatan (Dr Joseph Mercola dan Rachel Droege).
  • Mengurangi dua hormon dalam tubuh yaitu eniferin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit (Dr. Lee Berk – Menuai Kesehatan dan Hikmah dari Tertawa).
  • Mengurangi rasa nyeri atau sakit (dr. Rosmary Cogan - Menuai Kesehatan dan Hikmah dari Tertawa).
  • Obat awet muda (Prof. Dr. Lucille Namehow – Menangis dan Tertawa Sama Sehatnya).
  • Mengurangi stress (Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Meningkatkan kekebalan (dr. W.M. Roan - Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Menurunkan tekanan darah tinggi (Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
  • Mencegah penyakit (dr. William Frey - Gaya Hidup - Tertawalah Selagi Bisa).
·          
Namun di balik itu semua, tertawa itu sesungguhnya akan mematikan hati kita. Seperti termaktub dalam hadits: “Berhati-hatilah dengan tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (Hadits shahih, Shahiibul Jaami’ (no.7435). Untuk itulah kita dianjurkan untuk tidak memperbanyak tertawa.

Dan tertawa itu dalam Islam ada batasan dan adab-adabnya:
  1. Jaafar bin Auf dari Mas’ud dari Auf bin Abdullah berkata: “Biasa Nabi Muhammad SAW tidak tertawa melainkan senyum simpul dan tidak menoleh kecuali dengan wajahnya. (Yakni tidak suka melirik).” Hadis ini menunjukkan bahwa senyum itu sunnah dan tertawa terbahak-bahak itu makruh. Maka seharusnya orang yang sehat akal jangan tertawa terbahak-bahak sebab banyak yang tertawa di dunia akan banyak menangis di akhirat. Allah SWT berfirman: “Hendaklah kamu sedikit ketawa dan banyak menangis setelah menerima pembalasan dari amal perbuatan mereka.” (QS.At-Taubah:82)
  2.   Tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras. Dalam sebuah hadits: ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau, sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.” (HR. Al-Bukhari kitab al-Aadab bab at-Tabassum wadh Dhahik (no. 6092), al-Fat-h (X/617)

Wallahu a’lam…



Senin, 03 Oktober 2011

Pahlawan Kita tak Mesti Sama


Setiap tokoh memiliki pendukungnya sendiri. Dan setiap opini akan ada audiens-nya masing-masing.
Syamil Basayev, tokoh perjuangan rakyat muslim Chechnya. Perjuangannya melawan invasi Rusia terhadap negerinya. Ia membajak pesawat dan menyandera rumah sakit untuk menjelaskan kepada dunia apa sebenarnya yang terjadi, hingga bergerilya ke dalam hutan untuk memperjuangkan tanah airnya. Bagi rakyat muslim, ia seorang pahlawan. Namun bagi pemerintahan Kremlin beserta dunia barat, ia seorang teroris.
Ada lagi Robin Hood, sesosok pahlawan pada abad pertengahan di Inggris. Legendanya menceritakan bagaimana ia menguras timbunan kekayaan para kaum bangsawan pada malam hari, kemudian dibagi-bagikannya kepada rakyat miskin agar bisa makan. Tentu para bangsawan kala itu sangat ingin memenggal kepalanya, karena ia merupakan seorang pencuri kekayaan mereka. Namun, ia berada di hati terdalam kalangan rakyat miskin.
Begitupun yang terjadi terhadap as-syahid Sayyid Quthb di Mesir. gamal abdul nasser menghadiahinya hukuman gantung, karena ia memperjuangkan nilai Islam yang lurus, yang terbebas dari nilai-nilai penindasan ideology busuk amerika. Bahkan, algojo hukuman gantungnya pun tertipu dan tak tahu, apakah yang hendak ia gantung tersebut benar-benar seorang pahlawan atau penjahat. Sesaat ketika sang syahid hendak menjalani hukumannya, algojo tersebut meminta agar sang terhukum mengucapkan syahadat. Berulang ia mengatakan permintaannya agar mengucapkan syahadat, namun sang syahid hanya diam. Dan akhirnya iapun berkata bahwa mengapa ia bisa berdiri di tiang gantungan untuk mati, justru karena ia berkeras terhadap penguasa untuk menegakkan syahadat semampu ia dapat.
Begitulah, seorang yang kita sebut pahlawan, mungkin bagi orang lain ia adalah sesosok teroris, atau seseorang yang banyak menimbulkan permasalahan-permasalahan bagi penguasa. Seorang penjahat; pencuri, bisa saja di lain hati orang ia merupakan sesosok pahlwan yang menyelamatkan nyawa kalangan orang-orang miskin. Dan kita semua bebas & tak perlu takut menentukan siapakah yang layak bergelar pahlawan menurut kita, tidak peduli orang lain akan menyebutnya sebaliknya. Karena kita hidup dalam dunia demokrasi, yang mana didengang-dengungkan oleh amerika.


 

Jumat, 06 November 2009

Dies Natalis Unila, Indonesia Berduka

Melintas di halaman belakang rektorat Universitas Lampung beberapa hari ini, hati menjadi miris. Ada apakah geranagn? Terlebih lagi kian miris saat kemarin tersiar berita di televisi baru saja terjadi gempa bumi 7.6 skala richter yang mengguncang Padang dan mengakibatkan 80 persen bangunan di sana hancur, sertea 400 jiwa meninggal dunia. Indonesia sedang berduka, permasalahan bangsa tak jua reda.

Sampai saat ini nasib bangsa Indonesia ini belum juga membaik, dan beranjak naik. Masih banyak sekali orang miskin kelaparan di kota-kota, para pemuda pengangguran, baik sudah sarjana maupun buta pendidikan di desa-desa. Dan bahkan musibah masih saja beruntun susul-menyusul menyapa Indonesia. Indonesia masih saja terus dalam keadaan berkabung dan berduka cita, semenjak tsunami Aceh, Lumpur Lapindo, gempa Jogja, gempa Tasikmalaya, hingga 7.6 skala richter menghancurkan Padang. Tapi banyak kalangan yang dengan sikapnya, tidak menyatakan turut bersedih hati, namun justru terlihat berfoya-foya saat saudaranya yang lain masih saja terampas haknya, dan dirundung malang musibah.

Hal ini terlihat saat saya melintas di lapangan rektorat Unila, saat permasalahan bangsa masih memiriskan hati, justru kalangan akademisi di sini dalam keadaan glamour penuh penghamburan dana -yang memang sih dananya sudah ada anggarannaya- untuk gelaran acara sekitar sepekan yang diadakan setiap tahun, dan cukup menguras dana yang banyak, dan mungkin jika dana tersebut dibuat untuk membantu orang-orang miskin di sekitar unila, cukup lah membuat mereka kenyang. Setiap hari, hingga saat ini masih ramai para anak kecil usia belasan tahiun berpakaian kumal, ingusan, bergerombol keliling fakultas, melintas kelompok-kelompok mahasiswa, dengan berbekal karung, mengais kotak-kotak sampah memulung botol-botol bekas. Dan masih setiap harinya pula kita jumpai di kampus tercinta ini, pengemis-pengemis tua, dan juga anak-anak kecil belia, masih dengan penuh harap sesuap nasi, menjulurkan tangkupan tangan sedikit mengiba memaksa, mencoba rejeki di setiap kerumunan mahasiswa.

Sepertinya nilai mulia Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa pendidikan dan pengajaran, penalitian, dan pengabdian masyarakat, kini tidak jua memancarkan kemanfaatan kepada masyarakatnya. Di saat masih banyak masyarakat yang kesusahan, Unila dengan sukacita menggelar hajatan besar penuh dana, Dies Natalis Unila; Acara dengan panggung besar, dan berbagai stand pameran mengelilingi lapangan lebar, digelar di bawah tenda-tenda tarup. Nilai mulia Tri Dharma Perguruan Tinggi tadi seolah angan-angan, tidak pernah menyentuh masyarakat yang ada di sekitar Unila ini sendiri. Seharusnya, para pengemis, para pemulung cilik itu tadi bisa merasakan keindahan hidup mereka dari efek kehadiran perguruan tinggi yang memberikan solusi kepada masyarakat.

Melihat hal ini, mungkin, kita hanya bisa menanti, -namun entah sampai kapan- kebijakan Unila yang lebih banyak memberi arti, tak sekedar memberikan tarif masuk kita masih berharap optimis, bahwa Unila mengejar target Topten University tahun 2025, tidaklah hanya sekedar mengejar nama tanpa karya nyata bagi bangsa, apalagi melupakan tujuan utama nilai moral dan pendidikan bagi mahasiswanya. Dan pada akhirnya, salam perubahan buat bapak rektor Unila, semoga pendidikan kita dapat memberikan solusi bagi problem kompleks bangsa ini, dan dapat lebih menanamkan moral, serta arti dari tujuan sebuah nilai luhur pendidikan.


*terbit pada Surat Pembaca Lampung Post, 6 Oktober 2009

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...