Label

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

Sebuah Stasiun Pertemuan


Sha-finah. Ya, namanya Sha-finah. Begitu ia kemarin mengucapkan namanya melalui bibirnya yang agak dimakhrojkan. Kubertemu dengannya di sebuah Stasiun di sebuah kota yang sejuk dan damai. Saat langit telah gelap dan mendingin. Ketika stasiun tersebut masih dipenuhi hingar-bingar orang yang lalu lalang datang dan pergi.
Kala itu ia termenung dengan pandangan menerawang di ujung bangku di ujung selasar. Sendirian. Dari balik tiang Stasiun, kulihat ia dari kejauhan. Matanya sendu, seolah sedang bersedih. Penasaran, tanpa bermaksud hendak mengusik, kucoba mendekatinya ada apa gerangan. Sekedar mencoba bersimpati.

Ku duduk di bangkunya, terpaut beberapa jarak. Sambil membaca buku novel tentang revolusi ku, aku coba beradaptasi sejenak dengannya. Sesaat kemudian aku menoleh ke arahnya, sembari kuulurkan coklat delfi dari saku mantelku. Kubuka percakapan dengan berkata lirih: "mau coklat? mungkin bisa sedikit menghangatkan,,,"

Iapun menoleh, tanpa ekspresi kaget sama sekali, seperti telah menyadari kehadiranku di dekatnya sejak awal. Seketika wajah datarnya berubah. Bibirnya mengembang senyum tipis. Tipis sekali, seolah dikerahkan dengan tenaga-tenaga sisa. "Terimakasih," ujarnya pelan sekali.
Percakapan pembuka tersebut mengawali perkenalan kami. Hingga kemudian sinar wajahnya benar-benar berubah. Dari sangat kelabu, menjadi merah merona.

Panjang percakapan kami. Mulai dari perkenalan, bercerita tentang kesukaan, hingga tentang perjalanan. Hingga akhirnya ia mencurahkan hatinya. Bahwa sesaat sebelumnya ia berpikiran hendak bunuh diri. Sambil sesekali menatap rel kosong di seberang. Suasana kemudian kembali hening antara kami beberapa saat. Untuk kemudian ia mulai tersenyum kembali memecah keheningan dan berkata "Tapi sepertinya niat itu salah. Mungkin masih ada kesempatan kan buatku??" tanyanya sambil menatapku.
Aku tak mampu menjawab pertanyaannya tersebut. Aku hanya mampu menyunggingkan senyumku kepadanya. Memberi isyarat peng-iya-an.
Seperempat jam berlalu, dan kami kembali saling hening. Aku bingung hendak melanjutkan percakapan apa lagi. Hingga akhirnya, kuberanikan diri menawarkan tumpangan perjalanan setelah stasiun berikutnya, atas tujuan kami yang sama. Ia hanya diam, sambil menatap mataku lekat-lekat. Lamma sekali. Sehingga membuatku kikuk...

***

Kapten Ramirez

Kapten Ramirez melamun. Ia memandangi lautan tenang di depannya. tak nampak sama sekali daratan, kapal, maupun benda apapun hingga ufuk samudera.
Di atas sekoci kecil ini ia sendirian. Benar-benar sendiri. Hanya berteman sepotong dayung dan seplastik roti keras. Tanpa air minum.
Lamat-lamat bayangannya menerawang beberapa hari lalu. Ia masih berada di atas kapal kebanggaannya: The Edelweiss. Penuh dengan anak buah, meriam, dan tentu saja persediaan makanan yang enak-enak.
Semua bermula ketika ia lalai. Ketika sebulan terakhir kemudi dan peta perjalanan ia percayakan penuh pada Mayor Rottentaire...
***

Kamis, 31 Mei 2012

Air Mata untuk Seorang Ayah [fiksi alit]

Sesaat setelah menjelaskan tujuanku, kubuka wawancara dengan pertanyaan dasar terkait penghasilan. “penghasilan tidak pasti dik.Kecil, hanya sekedar menyambung hidup dari hari ke hari. Untuk membeli beras, saya upahan di ladang orang, jadi kuli tani, ikut bantu-bantu panen orang yang punya ladang, dan sebagainya dik”. Jawab ibu dihadapanku respek.
“Suami kerja di kota dik. Kerjanya kuli angkut barang, kadang juga kuli bangunan, ya, tidak pasti gitu di kota …” Seketika keadaan hening. Ibu itu terdiam dingin. Mendengar keterangan ibu ini, Aku pun menerawang kejadian siang itu.

Kamis, 21 Juli 2011

Damai Yang Hilang

Tercalar pelangi dihiris gerimis
Senja pun merangkak menutup mentari
Terbias warnanya ke wajah

Lagu kedamaian tiada kedengaran
Bumi yang merekah disirami darah
Kemelut melanda tiada kesudahan
Kemusnahan bermaharajalela
Yang lemah menjadi mangsa

Anak-anak kecil menggoncangkan ibunya
Yang lemah lunglai tak lagi bernyawa
Jeritan suara batinnya
Tak siapa mendengarnya

Tergadaikan maruah oleh janji-janji
Terbayarkah dengan nyawa dan darah
Soalan yang tiada jawaban

Kemanusiaan telah lama hilang
Kini yang tinggal hanya ketakutan
Musnah kasih sayang dan persaudaraan
Tandus akhlak dan keimanan
Menyemai persengketaan 
 
 
 
Album :
Munsyid : NowSeeHeart
http://liriknasyid.com  

Senin, 04 Juli 2011

Sang Lelaki Pemimpi


Aku seorang lelaki pemimpi,
Hanya seorang pemimpi.
Yang terlalu banyak bermimpi, mengharap keajaiban-keajaiban untuk negeri.

Aku hanya seorang pemimpi,
Yang hanya bisa berharap, seandainya, seandainya, dan seandainya…
Berharap anak-anak yatim tak ada yang tidur kelaparan di malam dingin ini
Tak ada pengemis di lampu merah lagi, yang ia pikirkan untuk esok hanya sesuap nasi
Dan para penguasa negeri selalu ingat mati, dan memilih mati daripada korupsi.

Ah, aku memang hanya sekedar seorang pemimpi.
Tak banyak yang aku bisa lakukan.
Aku hanya sekedar bermimpi, berdoa agar negeri ini segera diberkahi.
Wanita-wanita tak perlu lagi menjual diri hanya untuk menghidupi diri
Para petani hidup selayaknya, tidak lagi ditipudaya
Bahkan cerita pembegalan di daerah menjadi hanyalah sekedar legenda.

Aku akui, aku hanya seorang pemimpi.
Yang hanya bisa bermunajat di setiap doa, agar bangsa ini diampuni dari kutukan-kutukan  lumpur dosa
Dan segera bangkit, serta tidak ada lagi penguasa saling melempar nista.

Memang, aku akui aku hanya bisa bermimpi.
Tetapi paling tidak aku berusaha tidak berlaku zalim kepada  para nestapa
Aku pun mencoba untuk memberi apapun manfaat bagi sesama selagi aku bisa
Dan yang pasti, aku tidak ingin hanya banyak berkata, beretorika dengan gagahnya
Tetapi tak tahu apa yang diderita saudaranya.
Inilah aku, sang lelaki pemimpi.
Bagaimana dengan dirimu, saudaraku?

 
Bandar Lampung, 4 Juli 2011
01:36 AM

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...